Kota Subulussalam (Bumi Syekh Hamzah Fansuri)

2 11 2008

Kota Subulussalam dinilai layak menyandang gelar Bumi Syekh Hamzah Fansuri (nama seorang ulama monumental berkaliber internasional yang hidup pada permulaan abad ke 11 H – 17 M). Demikian rekomendasi Dewan Kesenian Aceh (DKA) dalam Rapat Kerja dan Musyawarah Syeikh Kesenian Tradisi se-Aceh, yang berlangsung di gedung DPR Kota Subulussalam (27 Oktober 2008). Untuk selengkapnya silahkan baca  SERAMBI NEWS.COM

Dengan hal ini, semakin sinkron Kota Subulussalam menjadi tanah kelahiran dan kebesaran ulama Sufi yang terkenal tersebut. Untuk itu, penulis ingin sedikit berbagi kepada pembaca sedikit riwayat tentang Syekh Hamzah Fansuri. Namun, penulis sulit mendapatkan berita/sejarah mengenai Ulama Sufi ini disebabkan para Sarjana/sejarawan kebanyakan berbeda pendapat tentang kelahirannya serta riwayat hidup Ulama yang bersangkutan.

Adapun mengenai riwayat hidupnya, para sarjana berbeda pendapat karena tidak diketahui secara pasti tempat dan kapan lahirnya, akan tetapi berdasarkan fakta sejarah yang ada, Hamzah Fansuri diperkirakan hidup pada medio abad ke-16 saat Aceh dibawah pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah Sayyidil Mukammil (997-1011 H/ 1589-1604 M). Dari nama belakangnya “Fansur” dapat kita ketahui bahwa ia berasal dari Barus, kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, daerah pesisir Barat pulau Sumatra itu bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab akan menjadi “Fansur”. Sebagaimana tertulis dalam syairnya “Burung Pingai”; Hamzah Fansuri di Negeri Melayu// Tempatnya kapur di dalam kayu// Asalnya manikam tiadakan layu// Dengan ilmu dunia di manakan payu. ‘Kapur’ ini sama maknanya dengan ‘Barus’. Dari sinilah tercipta kosa kata majemuk “kapur barus”.

Menurut Taufiq Ismail, dalam sastra Indonesia, yang cikal bakalnya adalah dari bahasa Melayu, posisi Hamzah Fansuri begitu urgensi karena dialah penyair pertama yang menulis bentuk syair dalam bahasa Melayu empat abad silam. Kontribusi besarnya bagi bahasa Melayu adalah fondasi awal yang dipancangkannya terhadap peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam sesudah bahasa Arab, Persia, dan Turki Utsmani.

Hamzah Fansuri banyak mendapat asupan ilmu di Zawiyah/Dayah Blang Pria Samudera/Pasai, Pusat Pendidikan Tinggi Islam yang dipimpin oleh Ulama Besar dari Persia, Syekh Al-Fansuri,  nenek moyangnya Hamzah. Kemudian Hamzah Fansuri mendirikan Pusat Pendidikan Islam di pantai Barat Tanah Aceh, yaitu Dayah Oboh di Rundeng, Subulussalam. Kedalaman ilmu yang dimiliki telah mengangkatnya ke tempat kedudukan tinggi dalam dunia sastra Nusantara. Oleh Prof Dr Naguib Al-Attas ia disebut “Jalaluddin Rumi”nya Kepulauan Nusantara, yang tidak terbawa oleh arus roda zaman. Ulama dan pujangga Islam Nusantara tersohor Hamzah Fansuri meninggal pada akhir pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636 M). Dimakamkan di kampung Oboh Kecamatan Rundeng Kota Subulussalam di Hulu Sungai Singkil.

Peletakan Batu Pertama (Pembangunan Universitas Hamzah Fansuri)

buku

Dalam Rapat Kerja dan Musyawarah Syeikh Kesenian Tradisi se-Aceh, yang berlangsung di gedung DPR Kota Subulussalam tersebut (27 Oktober 2008) langsung dihadiri oleh Ketua DPR Aceh, Sayed Fuad Zakaria juga berkesempatan untuk meletakkan Batu Pertama Pembangunan Universitas Hamzah Fansuri di atas tanah seluas lima hectare, Desa Buluh Duri Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam. Ketua DPR Aceh Sayed Fuad Zakaria kemudian menandatangani prasasti pembangunan Universitas Hamzah Fansuri tersebut.

Sebuah berita yang membawa angin perubahan pada Kota Subulussalam dikarenakan diharapkan dengan adanya pembangunan Kampus ini, memberikan kemudahan bagi siswa-siswa SMU di seluruh Kota Subulussalam untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkan perkuliahan yang berkualitas tanpa harus jauh meninggalkan Kota Subulussalam tercinta hanya untuk menjalani perkuliahan.

Sebagaimana kita tahu, mayoritas masyarakat/anak Kota Subulussalam apabila ingin kuliah(menjadi mahasiswa) harus dengan Rela meninggalkan kampung halaman tercinta ini demi pendidikan. Penulis sendiri merasakan hal ini (asli anak Subulussalam sekarang berada di Pekanbaru untuk menjalani perkuliahan). Memang, di Subulussalam sudah ada Universitas Abulyatama (Unaya), namun kurang efektif dikarenakan kampus ini bersifat Kelas Jauh/Paralel(Induk berada di Banda Aceh). Juga ada PGSD(Pendidikan Guru Sekolah Dasar) tetapi belum mampu menampung mahasiswa dalam jumlah banyak. Nah, untuk itu kedepannya diharapkan pembangunan Universitas Hamzah Fansuri ini dapat menjadi landasan dan tombak kemajuan Kota Subulussalam.


Actions

Information

One response

25 01 2009
ardhiyanto

kepada pemerhati seni budaya ataupun sejarawan

agar dapat membuat seminar tentang hamzah fansuri baik sejarah dan sketsa wajahnya

085664182231 my phone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: