Dewan Tolak Pembangunan Pabrik Tapioka

27 01 2009

Usulan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disprindag) Kota Subulussalam untuk membangun pabrik Tapioka di daerah nampaknya tidak berjalan mulus. Buktinya komisi B DPRK Subulussalam yang membidangi perkebunan, pertanian, perindustrian dan peternakan menolak usulan dengan berbagai pertimbangan.

Penolakan usulan pembangunan pabrik tapioka yang dananya mencapai Rp.814 Juta lebih itu disampaikan ketua komisi B, Darwis Ibarhim. Dalam pembahasan RAPBK yang berlangsung, Jum’at (23/1) di Hotel Grand Mitra Subulussalam, Darwis menganjurkan, dinas berkoordinasi dengan pihak terkait seperti dinas pertanian sebelum merencanakan pabrik tersebut. Sehingga, ujar Darwis, dinas pertanian turut mendorong petani untuk membudidayakan singkong (ubi kayu) yang akan diproduksi. “Jangan asal bangun pabrik sementara bahan bakunya tidak ada” ujar darwis.

Darwis menambahkan, selain adanya koordinasi dengan pihak terkait termasuk kalangan legislatif, pembangunan pabrik tapioka juga perlu mempertimbangkan pemasaran. Disamping harus dilakukan studi kelayakan pembangunan proyek tersebut. “Jangan sampai petani sudah capek tapi tidak tahu memasarkan. Belum lagi masalah harganya apakah sesuai atau malah tak bernilai”, tegas politisi Demokrat itu. Ia menyatakan, akan tetap menolak usulan pembangunan pabrik dan menyarankan agar mengganti dengan dengan program lain yang menyentuh langsung kepada kepentingan masyarakat. Sikap tegas anggota dewan ini mendapat sambungan postif dari sejumlah kalangan masyarakat di Subulussalam. Pasalanya, selama ini program yang diusulkan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) kerap tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bahkan tidak sedikit program pemerintah yang gagal total karna tidak sesuai dengan situasi di lapangan.

Salah satu bukti kegagalan berbagai program pertanian maupun perkebunan di daerah ini dimana pemda yang selalu terlena dengan kegiatan “Tanam Perdana dan Panen Perdana“. Padahal Pencanangan tersebut motivasi warga untuk bertani tetap tidak berubah.¬† “Program tak pernah jelas, pemerintah hanya berkutat pada kegiatan tanam perdana lantas panen perdana, dari tahun ke tahun itu-itu saja, padahal masyarakat yang bertani tetap tak berubah,” cetus seorang warga, Wilda Solin.

Sumber : http://www.serambinews.com


Actions

Information

2 responses

18 02 2009
JAMAIKA

WEI DEWAN…. KURANG YA UANG AMPLOP NYA….DASAR MEMANG GAK TAU DIRI.. MENTANG MAU CALEG…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
PIKIRIN TU RAKYAT… JANGAN KURSI LU AJA LU PIKIRIN………..!!!!

29 03 2011
Muhyil Himmi

coba dibuat penelitian/angket/sensus komoditi dan luas areal pertanian, mdh2an dari sana bisa diperoleh arah pengembangan yg lbh baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: