APBK Subulussalam Disahkan

21 02 2009

Setelah tertunda beberapa minggu, Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Subulussalam akhirnya mengesahkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (RAPBK) sebesar Rp 249 miliar lebih dan delapan Qanun tentang Pemungutan Retribusi Daerah, Jum‘at (20/2) di gedung dewan setempat.

Paripurna pengesahan R-APBK menjadi qanun tentang APBK disetujui melalui voting terbuka. Dari 20 anggota dewan yang hadir tujuh di antaranya tidak hadir. Semua fraksi di dewan menyetujui pengesahan RAPBK yang diusulkan pemerintah daerah menjadi APBK. Jumlah keseluruhan anggaran yang disahkan Dewan sebesar Rp 249 miliar lebih, sementara nilai belanja Rp 250 miliar lebih. Artinya, masih ada selisih anggaran sekitar Rp 1,2 miliar yang dihitung sebagai devisit.

Rincian sumber anggaran yang disahkan itu berasal dari pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 3,2 miliar lebih, dana perimbangan Rp 237 miliar lebih, dan pendapatan lain-lain sekitar Rp 8,4 miliar lebih. Sementara anggaran belanja, perinciannya: belanja tidak langsung Rp 74,7 miliar lebih, dan belanja langsung Rp 174 miliar lebih. “Anggaran hanya bisa dibelanjakan seusai dengan perencanaan yang telah disetujui,” kata Pj Walikota Subulussalam Marthin Desky dalam sambutannya.

Marthin menambahkan, guna mendongkrak ekonomi masyarakat Kota Subulussalam, pada tahun 2009 pemerintah setempat memprioritaskan bidang perkebunan. Hal itu mengingat 70 persen penduduk Kota Subulussalam berprofesi sebagai petani dan pekebun. Karenanya, pada APBK tahun 2009, pemerintah mengalokasikan sebesar Rp. 30 miliar sektor perkebunan dan Rp 25 milyar pertanian. Pemerintah setempat lebih memprioritaskan pembangunan yang dinilai sangat menyentuh kepentingan dan hajat hidup orang banyak sehingga tekad meningkatkan pendapatan masyarakat benar-benar bisa terwujud. “Jadi, selama tiga tahun berturut-turut anggaran difokuskan untuk sektor pertanian dan perkebunan,” ujar Martin.

Ia menambahkan, pembangunan rumah sakit umum (RSU) tipe C di Kota Subulussalam, tak kalah pentingnya mengingat selama ini masyarakat di sana harus berobat ke luar daerah seperti Sidikalang dan Kabanjahe. Pasalnya, RSU Aceh Singkil yang ada di Kecamatan Gunung Meriah, Rimo nyaris tak dapat diandalkan untuk menangani pasien gawat darurat.

Kendati demikian, peningkatan kualitas pendidikan juga dianggap sangat penting dilaksanakan. Karenanya, pembangunan SMU Unggul yang polanya seperti pesantren modern terpadu dengan seleksi calon siswa ekstra ketat diharapkan bisa terealisasi sebanyak tiga ruang kelas belajar (RKB) yang masing-masing RKB berkekuatan 30 siswa. Target ke depan, para alumnus SMU Unggul Subulussalam harus dapat menguasai tiga bahasa sehingga melanjutkan ke Perguruan Tinggi dapat lebih mudah di samping kepemilikan keterampilan, seperti komputer, perbengkelan dan pertukangan.

Sumber : (Serambi Online)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: