Relokasi Ratusan Eks Pengungsi NAD Belum Jelas

21 02 2009

BESITANG – Rencana relokasi 554 kepala keluarga eks pengungsi  korban konflik politik di NAD dari kawasan TNGL masih di atas kertas.  Pembahasan antar departemen termasuk di level menteri sudah sering  terdengar, namun implementasinya nol.

Para warga yang eksodus ketika berlangsung konflik di NAD berjumlah  ribuan jiwa. Mereka menduduki kawasan TNGL secara ilegal sejak tahun  1999 hingga sekarang. Warga hidup terpisah ditiga titik lokasi, yakni  di Sei. Minyak, Barak Induk, dan Damar Hitam.

Marlin, salah seorang pimpinan informal pengungsi di kawasan hutan TNGL Resort Sekoci tadi siang mengatakan,  sampai saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah kapan dan dimana  tempat mereka akan direlokasi.

“Dari dulu rencana relokasi terus molor, tak ada kunjung  kepastiannya,” tukas Marlin seraya menambahkan mereka siap  dipindahkan sepanjang pemerintah memenuhi berbagai sarana termasuk  jatah hidup selama satu tahun.

Pertengahan 2008, Menkokesra, Aburizal Bakrie, lewat surat keputusan  No: 14/Kep/Menko/Kesra/V/2008/ membentuk tim koordinasi penanganan eks  pengungsi korban konflik Aceh di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser  (TNGL).

Surat Keputusan pembentukan tim koordiansi yang diterima Waspada  melalui surat elektronik, ditandatangani, Meko Kesra, Aburizal Bakrie, Deputi I Menkokesra, Asep Karsidi, dan Asdep Deputi I Menko Kesra  Urusan Konflik Sosial, Andi M. Natsir.

Diantara tugas tim nantinya, melakukan koordinasi dengan instansi  terkait di daerah dan pusat, melakukan inventarisasi sekaligus  identifikasi, melakukan pengkajian untuk menentukan lokasi pemukiman,  merelokasi, dan memberdayakan para pengungsi.

Ketua tim dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial, Menko  Kesra, Wakil Ketua, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam,  Sekretaris, Asdep Urusan Konflik Sosial, dan 18 anggota dari beberapa  Deputi, Dirjen, Sestama BPN, Sekdaprov NAD, Sekdaprov Sumut, Bupati  Langkat, Ketua DPRD Langkat, dan Kepala BBTNGL.

Hutan tropis dataran rendah yang ditetapkan Unesco sebagai Tropical  Rainforest Heritage of Sumatera ini keberadaan sudah sangat kritis.  Diperkirakan, tak kurang 23.000 ha luas hutan di Langkat sudah rusak  akibat aksi illegal logging dan perambahan.

Karenanya, aktivis lingkungan, Tajruddin, ST mendesak rencana relokasi  segera diimplentasikan suapaya hutan yang rusak dapat direstorasi  kembali.

Sumber : (Waspada Online)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: