Presiden : Jangan Ada Yang Ganggu Perdamaian Di Aceh

24 02 2009

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan amanatnya pada acara peresmian 13 proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Taman Internasional “Aceh Thanks The World”, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Senin (23/2). Kepala Negara meresmikan 13 proyek pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi serta infrastruktur yang telah selesai dikerjakan oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi NAD-Nias, Departemen Pekerjaan Umum, Pemprov NAD, Pemkot Banda Aceh dan para lembaga mitra dengan nilai total sebesar 715,3 miliar rupiah tersebut diantaranya Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue dan Bendungan Keuliling.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan tidak ada satu orang pun yang mengganggu perdamaian di Aceh pasca penandatanganan kesepakatan (MoU) damai Helsinki yang merupakan pilihan masyarakat Aceh untuk keluar dari konflik.

Saya berharap tidak ada siapa pun yang mengganggu pilihan masyarakat Aceh untuk merasakan perdamaian karena ini adalah jalan yang kita pilih dan kita kehendaki. Untuk itu mari kita selamatkan dan lanjutkan perdamaian di Aceh,” kata Presiden di Banda Aceh, Senin [23/02] .

Hal itu disampaikan Presiden pada peresmian sejumlah proyek Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias serta yang didanai oleh APBN di Lapangan Blang Padang Banda Aceh. Presiden juga menegaskan, bahwa cara atau jalan yang dipilih pasca MoU Helsinki adalah Aceh dengan otonomi yang luas dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu , Presiden berharap tidak ada yang keluar dari konsep perdamaian dan meminta menghentikan cara pandang yang masih terkungkung pada masa konflik dan memasuki lembar kehidupan yang baru.

“Tidak ada lagi istilah Daerah Operasi Militer (DOM) maupun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lagi. Hilangkan pikiran-pikiran lain yang hanya mementingkan pribadi kecuali untuk mensukseskan proses perdamaian,” kata Presiden.

Kepala Negara setuju dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan mengajak semua pihak untuk terus mendukung proses reintegrasi. “Dengan harapan dan ajakan itu, saya punya keyakinan tinggi dapat terus melanjutkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi serta reintegrasi,” tambah Presiden.

Presiden akan berada di Aceh selama dua hari untuk meresmikan 13 proyek dengan total nilai Rp715, 3 miliar dan bertemu dengan tokoh masyarakat maupun tokoh agama di Aceh. Sejumlah proyek yang diresmikan antara lain, Taman internasional Aceh Thanks The World senilai Rp2,4 miliar, Museum Tsunami senilai Rp67,9 miliar. Proyek lain yaitu Pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue senilai Rp74,2 miliar, Politeknik Aceh senilai Rp160 miliar, Bendungan Keuliling senilai Rp270,3 miliar, Kapal Motor Penyeberangan BRR senilai Rp26,4 miliar.

Terkait proyek-proyek tersebut yang akan menjadi aset Pemerintah Aceh, Presiden mengharapkan masyarakat menggunakan bantuan tersebut sebaik-baiknya dan menjadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Saya berharap infrastruktur yang sudah dibangun oleh BRR bekerja sama dengan donatur maupun yang didanai oleh APBN digunakan dan dipelihara sebaik-baiknya,” ujar Presiden.

Menurut Kepala Negara , peresmian proyek-proyek tersebut merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT dan tentunya untuk membulatkan tekad menjaga, mengamankan dan menyelamatkan proses perdamaian.

Resmikan 13 Proyek Rekonstruksi Aceh

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan 13 proyek rehabilitasi dan rekonstruksi serta infrastruktur di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang dibangun pascatsunami 2006. Peresmian proyek-proyek yang telah selesai dikerjakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi NAD, Pemeritah Kota Banda Aceh dan lembaga-lembaga mitra itu berlangsung di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin.

Peresmian tersebut ditandai dengan penandatangan 13 prasasti dan meninjau bangunan Meseum Tsunami Aceh serta pelabuhan penyebrangan di kawasan Ulee Lheu. Ketua Badan pelaksana BRR NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto mengatakan prasasti yang ditandatangani Presiden yakni prasasti Taman Internasional (Aceh Thanks The Wolrd), Museum Tsunami Aceh, pelabuhan penyebrangan Ulee Lheu, Politeknik Aceh.

Selain itu, prasasti Bendungan Keuliling, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) BRR, jembatan Krueng Keureuto di Aceh Utara, Jembatan Cunda di Kota Lhokseumawe, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Aceh Tenggara, dan dua unit SPAM di Kabupaten Aceh Selatan.

Dalam lawatannya selama dua hari itu, Presiden yang didampingi Ibu negara Ny Ani Yudhoyono, Menkopolhukam, Mendagri, Menteri PU, Menhub, dan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) juga menandatangani prasasti terminal penumpang A Kota Banda Aceh, Stasiun Perum Damri dan Kantor Badan SAR Nasional di Aceh. “Total nilai proyek yang diresmikan Presiden Rp715,3 miliar terdiri dari delapan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi dan lima proyek Departemen Pekerjaan Umum,” kata Kuntoro Mangkusubroto.

Selama empat tahun terakhir, katanya, proses rehab-rekon Aceh yang dikoordinasi dan dilaksanakan BRR telah membangun 134 ribu unit rumah permanen, 3.600 Km jalan baru, 12 airport dan airstrip, 20 pelabuhan laut, dan 1.500 unit sekolah, termasuk memberikan pelatihan kepada 39.000 guru.

Selain itu, BRR juga telah membangun 1.000 unit fasilitas kesehatan, 987 bangunan Pemerintah, memberikan bantuan kepada 195 ribu unit Usaha kecil Menengah (UKM) dan menfungsikan kembali 70.000 lahan pertanian. “Hasil yang telah dicapai selama empat tahun itu diharapkan menjadi modal bagi pembangunan daerah di Aceh dan Nias, Sumatera Utara,” katanya.

Visa Kunjungan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjanjikan akan memudahkan masyarakat internasional masuk ke Aceh dengan menyetujui memberi izin pelayanan Visa on Arrival (visa kunjungan) di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM).

“Saya setujui Visa on Arrival untuk Aceh dan akan membicarakan dengan Menteri Luar Negeri,” kata Presiden menjawab permohonan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf terkait izin Visa on Arrival pada acara peresmian sejumlah proyek BRR NAD-Nias di Banda Aceh, Senin [23/02] .

Presiden berharap dengan pemberian izin Visa on Arrival langsung dari Aceh maupun daerah lainnya di Indonesia, maka akan memudahkan wisatawan asing untuk datang dan menikmati pariwisata di Indonesia. “Jika bisa dipermudah, tidak perlu dipersulit,” tambah Presiden di sela peresmian 13 proyek dengan total nilai Rp715,3 miliar di Lapangan Blang Padang Banda Aceh.

Sebelumnya Gubernur Irwandi Yusuf dalam sambutannya mengharapkan pemerintah memberi kemudahan bagi berbagai aktivitas masyarakat internasional di Aceh untuk memberi izin pelayanan Visa on Arrival di Bandara SIM. Selama ini bagi warga asing yang ingin masuk ke Aceh harus mengurus Visa on Arrival ke ibukota negara Jakarta atau setidaknya di Medan Provinsi Sumatera Utara.

Pasca tsunami 2004, Aceh semakin terbuka bagi masyarakat internasional yang melakukan misi kemanusiaan melalui berbagai NGO maupun donatur. Di samping itu, saat ini Pemerintah Aceh sedang giat-giatnya mengundang investor untuk menanamkan modalnya di Aceh sehingga perekonomian masyarakat ikut meningkat.

Sumber : (Berita Sore)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: