Aparat Penegak Hukum Diminta Mengusut Terkait Mahalnya Harga Tanah

4 03 2009

Terkait dugaan mahalnya harga tanah untuk lahan kantor Walikota dan Gedung DPRK Subulussalam, aparat penegak hukum didesak segera mengusut kasus tersebut. “Kita berharap pihak terkait untuk mengungkap kasus ini supaya tidak menimbulkan polemik,” kata Bachtiar Husein anggota DPRK Subulussalam kepada Serambi, Sabtu (28/2) lalu.

Bachtiar yang juga anggota Komisi A mengatakan pengungkapan kasus pengadaan lahan tersebut bertujuan agar tidak menjadi polemik lagi di tengah masyarakat, sebab jika tidak diungkapkan, masyarakat akan menganggap benar terjadi mark-up atas pengadaan sejumlah tanah pemerintah selama ini di Pemko Subulussalam. Pasalnya, harga tanah lahan kantor walikota dan DPRK seluas 18 hektar diduga terlalu melambung dari pasaran setempat pada tahun pembelian.

Di samping itu, Bachtiar juga mengutarakan ketidaksetujuan komisi A terkait lokasi pembangunan kantor Walikota dan DPRK Subulussalam lantaran dianggap tidak strategis dan jauh dari jalan raya. Apalagi, kondisi lahan tersebut juga tidak seluruhnya rata namun tak sedikit yang berbukit bahkan berjurang. Selain itu, lahan yang diklaim seluas 18 hektar perlu diukur kembali. “Masa jurang pun dihargai mahal,” tandas Bachtiar

Secara terpisah, ketua Lembaga Analisa dan Advokasi Kebijakan Publik (Lanskap) Kota Subulussalam, Emir Hamdi SH meminta pengusutan pengadaan lahan pemko jika benar terjadi pemahalan harga. Menurut Emir, pemerintah semestinya tidak memaksakan pengadaan tanah bila tidak sesuai dengan harga kepantasan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Ketua Komisi A DPRK Subulussalam mempertanyakan proses pengadaan tanah untuk pembangunan Kantor Walikota dan DPRK Subulussalam seluas 18 hektar di Desa Lae Oram, Kecamatan Simpang Kiri, yang dibeli seharga Rp 73,5 juta perhektar karena dinilai terlalu melambung dari standar harga di lokasi terkait bahkan diduga melebihi Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

Menurut Jamasa, jika dilihat dengan harga pasaran tanah setempat pada saat itu, dengan nilai harga yang dibayarkan oleh pemerintah daerah selisihnya sangat jauh. Namun saat pengadaan tanah terkait, Komisi A yang membidangi pemerintahan tidak terlibat lantaran pada masa itu lembaga DPRK di sana belum terbentuk.

Di sisi lain, meskipun harga kesepakatan dengan Pemko Subulussalam sebesar Rp 73 juta lebih, namun uang yang diterima pemilik tanah hanya Rp 60 juta. Menurut M Saidin mereka telah sepakat untuk menyisihkan sebesar Rp 10 juta per hektar untuk pihak pemko yang terlibat dalam pengadaan tanah. “Kami semua setuju kok, lagian harga juga sudah mahal, kan wajar kalau mereka (pemko-red) juga dapat bagian,” papar M Saidin salah seorang pemilik tanah.

Menanggapi masalah tersebut, Kabag Tata Praja, Sekdakot Subulussalam, Lidin Padang yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan adanya pengadaan tanah seluas 18 hektar di Lae Oram. Menurutnya, proses pengadaan sudah melibatkan tim yang terdiri dari Sekdakot Subulussalam, Asisten II, Kadis PPKAD, Kabag Tata Praja dan Kabag Umum. Lidin juga mengatakan, harga tersebut telah sesuai dengan hasil kesepakatan pemerintah dengan masyarakat pemilik tanah yaitu Rp 7.350 per meter.

Terkait kondisi tanah yang kebanyakan bergunduk-gunduk dan jurang menurut Lidin mengaku kalau hal terseut sudah pernah disampaikan kepada Walikota untuk ditelaah kembali dan keputusannya tetap dibeli dengan harga sama. Ketika ditanyakan pengakuan harga terkait uang senilai Rp 10 juta per hektar untuk pihak pemko, Lidin membantah. “Uang kita kirim melalui rekening, jadi itu tak benar,” tandas Lidin.

Sumber : (Serambi Online)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: