Aceh Defisit Listrik 30 MW

11 03 2009

BANDA ACEH – Permintaan pihak yang memerlukan tambahan energi listrik di Aceh saat ini mencapai 12 persen/tahun atau 30 megawatt (MW) dari energi listrik yang kini tersedia 255 MW. Artinya, permintaan meningkat 30 MW/tahun, tapi PLN belum mampu memenuhinya, sehingga empat kabupaten harus mengalami pemadaman bergilir dan banyak investor enggan menanamkan modalnya.

Manajer Teknik PT PLN (Persero) I Wilayah Aceh, Muntazar yang dikonfirmasi Serambi, Senin (9/3) membenarkan bahwa ada empat kabupaten yang kini harus mengalami pemadaman bergilir, karena kurangnya pasokan energi listrik dari sumber pembangkit listrik milik PLN. Keempat daerah itu adalah Blangpidie (Aceh Barat Daya) minus 1 MW, Sinabang (Simeulue) 200 kilowatt, Meulaboh (Aceh Barat) 2,5 MW, dan Kutacane (Aceh Tenggara) minus 400 kilowatt.

Khusus untuk Meulaboh dan Blangpidie, pemadaman bergilir terjadi, karena rusaknya mesin pembangkit listrik tenaga uap (batu bara) milik Media Group yang berkapasitas 15 MW. Menurut manajer tekniknya, pembangkit yang rusak itu baru akan beroperasi kembali pada Juli 2009.

Muntazar mengungkapkan, dari 255 MW suplai arus energi listrik yang masuk ke Aceh, sebesar 180 MW atau 70% bersumber dari pembangkit listrik di Sumatera Utara (Sumut) dan sisanya 75 MW lagi dari mesin listrik diesel yang terdapat di berbagai kabupaten/kota. Di antaranya, pembangkit listrik tenaga diesel di Lueng Bata, Banda Aceh. Karena terlalu besar ketergantungan arus listrik Aceh pada Sumut, kata Muntazar, maka ketika pembangkit listrik di Sumut mengalami gangguan, otomatis 2/3 wilayah Aceh jadi gelap. Ini risiko yang harus ditanggung Aceh, karena di daerah ini sampai sekarang belum tersedia sumber pembangkit listrik berkapasitas 100–200 MW.

Upaya yang dilakukan PLN Wilayah I Aceh untuk memenuhi permintaan tambahan daya listrik di daerah ini, kata Muntazar, adalah dengan menambah suplai arus listrik dari pembangkit sumber listrik baru dari Sumut.

Perlu diketahui, menurutnya, permintaan tambahan energi listrik Sumut sekarang ini lebih besar dari Aceh, yakni 200 MW/tahun. Artinya, kalau sekarang ini Aceh defisit 30 MW, Sumut lebih besar lagi defisitnya, mencapai 200 MW.

Upaya lain yang dilakukan PLN untuk memenuhi kekurangan suplai energi listrik di Aceh, ungkap Muntazar, di samping mendatangkan mesin diesel kapasitas 1–5 MW dari PLN Pusat, juga mengajak dunia usaha berinvestasi di bidang kelistrikan. Misalnya, investasi di bidang panas bumi (geothermal), tenaga air (hydro), uap (bata bara), dan diesel (solar).

Muntazar menyarankan, masalah pengadaan sumber energi listrik di Aceh haruslah ditangani bersama. Kalau masyarakat dan Pemerintah Aceh serta kabupaten/kota terus membebankan seluruhnya kepada PLN, maka krisis listrik yang dialami daerah ini tidak bisa cepat teratasi. Tapi sebaliknya, jika Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota bersama dunia usaha turun tangan bekerja sama mencari dan membiayai secara patungan pembangunan sumber energi listrik yang terdapat di Aceh, maka masalah kekurangan energi listrik bisa cepat diatasi.

Ia ingatkan bahwa sumber pembangkit listrik yang terdapat di Sumut saat ini, 80 persen berasal dari investasi swasta nasional dan swasta asing. Menurut Muntazar, Aceh bisa melakukan hal serupa jika seluruh pemerintah bersama DPRA, DPRK, dunia usaha, dan komponen masyarakatnya merapatkan barisan untuk berpikir dan berbuat maksimal untuk pengadaan tambahan sumber energi listrik baru di daerahnya.

Kepala Bappeda Aceh, Prof Dr Munirwansyah MSc, dalam paparannya mengenai kekurangan energi listrik di Aceh kepada Komisi DPR RI yang membidangi kelistrikan pekan lalu di Banda Aceh mengatakan, krisis energi listrik di Aceh saat ini sudah berdampak negatif dan menghambat masuknya investasi ke Aceh. “Oleh karena itu, anggota DPR RI perlu menyampaikan masalah ini ke Departemen Pertambangan dan Energi serta Dirut PLN Pusat di Jakarta,” ujarnya mengusulkan.

Ia kemukakan contoh bahwa di Banda Aceh saja jumlah daftar tunggu pengguna jasa listrik mencapai 20–30 MW. Bahkan saat ini ribuan unit rumah korban tsunami yang telah dibangun, tapi belum berlistrik. Kondisi serupa juga dialami di berbagai daerah yang masih mengalami pemadaman bergilir, karena terbatasnya sumber energi listrik yang dihasilkan pembangkit tenaga diesel yang terdapat di daerahnya. Kasus seperti ini terjadi di Takengon, Subulussalam, Blangpidie, Meulaboh, Kutacane, dan Sinabang.

Potensi sumber energi listrik di Aceh, sebut Munirwansyah, sebenarnya cukup banyak, tapi karena belum ada investor yang masuk, sehingga sumber tenaga energi listrik itu belum memberikan kemakmuran bagi rakyat. Ia sebutkan contoh, yakni sumber geothermal (panas bumi) yang ternyata terdapat pada 17 lokasi di berbagai kabupaten di Aceh. Di antaranya, panas bumi Seulawah Agam, Aceh Besar, yang potensi energi listriknya mencapai 40 MW serta Jaboi, Kota Sabang, sebesar 14 MW.

Begitu juga dengan sumber tenaga listrik air (hydro), terdapat 17 lokasi di Aceh. Misalnya, PLTA Peusangan yang potensi listriknya mencapai 86 MW dan tenaga uap (batu bara) PLTU Nagan Raya (batu bara) 200 MW.

Sumber : (Serambi Online)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: