Flu Babi Resahkan Tiga Daerah Di Aceh

4 05 2009

Tiga daerah di Aceh yang segelintir masyarakatnya memelihara babi untuk dikonsumsi, masing-masing Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam, kini resah oleh isu flu babi yang mulai merambah Asia. Kecuali hanya resah, dinas peternakan dan kesehatan hewan (Disnakkeswan) setempat belum berbuat apa-apa untuk mengantisipasi penyebaran virus flu babi tersebut, sebab mereka masih menunggu perintah dari dinas terkait di tingkat provinsi.

“Terus terang kami khawatir virus flu babi itu akan menyerang manusia karena selama ini ternak babi dipelihara di lingkungan penduduk dan dijual secara terang-terangan,” ungkap Salahuddin (29), warga Lawe Loning Harapan, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara (Agara) kepada Serambi, Selasa (28/4). Ia meminta kepada Pemkab Agara agar serius mencegah penyebaran flu babi yang tak kalah mencemaskan dibanding flu burung itu. “Jika perlu, demi keselamatan bersama, basmi semua populasi ternak babi di daerah ini, sebagaimana dulunya di berbagai daerah di Aceh banyak ayam yang terkena flu burung dimusnahkan. Ini yang namanya langkah antisipasi,” cetus Salahuddin.

Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Agara mengakui sebagian warga di kabupaten itu memang mulai resah dan khawatir dengan ancaman virus flu babi. Namun, seperti dikatakan Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan pada Dinkeswannak Agara, drh Putri Muswira, kepada Serambi kemarin, saat ini mereka belum merancang upaya pencegahan flu babi, sebab masih menunggu perintah dari Banda Aceh (provinsi).

“Lagi pula laporan dari masyarakat belum ada flu babi. Yang ada hanyalah penyakit endegonis (ayan) pada ternak ayam dan babi,” tukas Putri Muswira. Ditanya jumlah populasi ternak babi di Agara, Putri mengatakan tak tahu persis, karena data itu tak pernah dimintakan oleh Disnakkeswan Provinsi Aceh. “Karena tidak diminta, ya tidak kita data,” ujarnya. Menurut Putri, ternak babi di Agara banyak dipiara di Kecamatan Lawe Sigala-gala, Semadam, Babul Makmur, Deleng Pokhisen, Lawe Bulan, Badar, dan kecamatan lainnya. “Ternak babi tersebut bukan untuk dikomersialkan secara besar-besaran, melainkan untuk pesta pribadi keluarga tertentu,” ungkap Putri.

Tentang pakan untuk ternak babi tersebut, menurut Putri, juga tidak ada industri (home industry) khusus yang memproduksinya di Agara. “Pemilik babi biasanya hanya memberi sisa makanan yang mereka konsumsi kepada ternaknya, di samping ampas kelapa, keladi, dan dedak,” sebut Putri. Ia tegaskan bahwa virus flu babi belum menyerang seekor ternak babi pun di Aceh Tenggara. Juga belum ada korban manusia yang tewas akibat flu ini di Indonesia, seperti halnya di Meksiko yang warganya sudah lebih 100 orang yang tewas akibat virus ini.

Menyangkut flu burung, kata Putri, pihaknya telah melakukan upaya vaksinisasi unggas dan penyemprotan kandang hewan. Diakuinya, saat ini banyak ayam di Agara mati terkena penyakit ayan. Ciri-cirinya kepala berputar, membengkak, dan membiru, serta ke luar air dari hidung. “Apabila ada ternak ayam yang mengalami gejala seperti itu jangan dimakan. Lebih baik dibakar atau ditanam agar wabahnya tidak menjalar ke ternak yang lain,” saran Putri Muswira.

Populasi tinggi
Di Kabupaten Aceh Singkil yang mayoritas penduduknya muslim, populasi babi tergolong tinggi, meski hanya terkonsentrasi di Kecamatan Danau Paris. Menurut M Raja, warga Danau Paris, yang dihubungi Serambi kemarin, di setiap desa dalam kecamatan itu rata-rata terdapat sepuluh ekor babi piaraan. Di kecamatan itu terdapat enam desa. Dengan demikian, total populasi babi di sana sedikitnya 60 ekor. Belum lagi bila ditambah dengan babi hutan yang populasinya masih sangat tinggi, mengingat kondisi geografis Danau Paris masih dibalut hutan belantara.

Berdasarkan catatan Biro Pusat Statistik (BPS) Aceh Singkil, pada tahun 2005 populasi babi di kabupaten itu mencapai 221 ekor, tahun 2006 bertambah tiga menjadi 224, dan tahun 2007 menjadi 227 ekor. Populasi babi terbanyak di kabupaten ini, terdapat di Kecamatan Danau Paris dan Gunung Meriah. Meski data BPS menyebutkan ada 227 babi di Aceh Singkil tahun lalu, tapi Kepala Disnakkeswan Aceh Singkil, Ir T Bustari, mengatakan berdasarkan catatan resmi pihaknya data populasi babi di kabupaten itu tidak ada, karena di daerahnya tidak terdapat peternakan babi. “Kalau babi yang hidup di hutan kita tidak bisa memprediksi berapa populasinya,” kata T Bustari.

Meski belum ditemukan kasus flu babi di Indonesia dan Aceh Singkil, namun menurut T Bustari, ancaman tersebut perlu diwaspadai bersama. Salah satunya dengan meracun babi, terutama babi liar, untuk mengurangi populasinya. Akan tetapi, untuk melakukan hal itu harus ada instruksi dari Disnakkeswan Provinsi Aceh. “Itu yang masih kita tunggu,” ujar Bustari.

Di sisi lain warga berharap pihak terkait segera memberikan penyuluhan kepada peternak dan konsumen babi, mengenai bahaya flu babi, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Ketika mendengar adanya penularan flu babi pemerintah harusnya langsung menyosialisasikannya kepada masyarakat, terutama kepada peternak babi, sebelum jatuh korban manusia,” ujar Zaenal, warga Gunung Meriah, Aceh Singkil.

Mulai resah
Merebaknya wabah flu babi di sejumlah negara, turut mencemaskan masyarakat Kota Subulussalam, khususnya Kecamatan Penanggalan. Pasalnya, di daerah ini terdapat sekitar 70 ekor ternak babi yang dipiara warga setempat. Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam yang dikonfirmasi Serambi, Selasa (28/4) melalui dinas peternakan dan perikanan (DPP) setempat mengatakan masih menunggu instruksi dari provinsi untuk bertindak.

Kadis PP Subulussalam, drh Jalaluddin, juga mengatakan akan segera mendata ternak babi di daerahnya, karena sebelumnya tak pernah didata. “Flu babi itu kan temuan baru dan bukan penyakit sepele. Dan karena ini isu besar, maka kita tunggu instruksi dari provinsi. Saya pun sedang di luar kota,” kata Jalaluddin melalui handphone (HP). Di sisi lain, ia sempat mengisyaratkan di kota itu tak ada ternak babi. Tapi ketika disampaikan Serambi hasil pemantauan di lapangan bahwa ada puluhan warga di Kecamatan Penanggalan yang memelihara babi, Jalaluddin malah berdalih tak pernah ada laporan.

Menurut Nota Dinas Kadis PP Subulussalam, Adnan Saleh, mestinya setiap warga yang memelihara babi harus memiliki izin dan membuat laporan berkala. Ia pastikan bahwa puluhan babi yang dipiara di Kecamatan Penanggalan itu tidak berizin. “Mereka tak pernah melapor. Mestinya kalau memelihara babi harus ada izin,” kata Adnan yang dibenarkan staf lainnya. Pantauan Serambi di lapangan, sedikitnya 70 ekor babi dipiara warga Dusun Barisan Toba (Barto) Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Babi-babi tersebut memang tak dilepas, melainkan berada dalam kandang yang dibangun di belakang rumah.

Daulat Hutasoit (39), misalnya, memiara dua ekor babi: putih dan hitam. Ia juga menunjukkan sembilan ekor babi yang dipiara orang tuanya. Tak jauh dari sana, juga terdapat kandang babi yang berisi tujuh ekor, milik Mangapul Hutasoit. Warga lainnya yang memelihara babi adalah Periyani dan Bistok Situmorang, masing-masing delapan dan sembilan ekor. Pemilik babi umumnya berdarah Batak yang kemudian bermukim di wilayah Subulussalam, bahkan di Kabupaten Aceh Singkil.

Camat Penanggalan, Abd Sahman Sinaga, didampingi Kades Penanggalan, Haris Muda Bancin, juga turun ke lokasi ternak babi untuk mengimbau warga agar menjaga kebersihan ternaknya. Kades bahkan menyampaikan kepada warga agar rela bila suatu saat babi-babi tersebut dimusnahkan demi keselamatan jiwa manusia.

Camat Abd Sahman juga meminta Ketua RT Barto Piktor Situmorang mendata jumlah babi warga di daerahnya. “Ini bukan soal sudah terjangkit atau belum, tapi kita wajib mengantisipasi jauh sebelum jatuh korban,” kata Sahman. Piktor Situmorang memperkirakan ada sekitar 70-an ekor babi yang dipiara warganya. Piktor sendiri mengaku warganya mulai resah oleh isu flu babi yang mematikan itu. Karena itu, menurutnya, warga setempat mau menunjukkan ternak babi yang dipiaranya.

Selain ancaman virus dari babi piaraan, DPP Subulussalam juga mengimbau warga mengantisipasi babi hutan yang diburu. Meski babi-babi tersebut dibawa ke Sumatera Utara, namun tetap dikhawatirkan penularan virusnya saat proses pengangkutan. Dinas terkait diminta Camat Penanggalan untuk memperketat pemeriksaan ternak babi dan unggas di perbatasan Aceh-Sumut.

Sumber : (Serambi Indonesia)

***************

Antisipasi flu babi, camat turun ke rumah warga

PENANGGALAN – Menyusul isu nasional tentang flu babi dan mengantisifasi merebaknya penyakit itu ke daerah ini, Plt. Camat Penanggalan A. Saman Sinaga, SH turun ke sejumlah rumah warga pemelihara babi di Dusun Barto Kec. Penanggalan Pemko Subulussalam, tadi malam.

Kepada Waspada, Saman menandaskan, inisiatif turun ke rumah warga dalam rangka mengecek dan mendata warga setempat pemelihara babi sekaligus memberikan sosialisasi terkait isu flu babi yang sudah menjadi isu nasional. “Meskipun belum ada perintah pimpinan, kita berinisiatif untuk melakukan tindakan antisipasi,” sebut Saman.

Secara terpisah Pjs. Kepala Kampong Penanggalan Darmin Tinambun mengatakan, 23 dari 96 KK di Dusun Barto yang umumnya umat Kristiani memelihara babi. “Antara tiga sampai empat ekor dan berada dalam kandang,” rinci Darmin menjawab jumlah babi yang diperkirakan dipelihara 23 KK warga setempat.

Menurut Darmin, oleh pihak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Pemko Subulussalam, Rabu yang turun ke sana telah dilakukan penyuntikan sedikitnya terhadap sejumlah babi yang berada di empat kandang. Selain itu, kepada pemelihara babi juga diberikan obat untuk selanjutnya disuntikkan pemilik kepada binatang peliharaan mereka.

Drh. Jalaluddin, Kadisnakkan Pemko Subulussalam yang dikonfirmasi Waspada, Kamis melalui ponselnya membenarkan hal itu. Jalaluddin yang saat dihubungi mengaku berada di Banda Aceh menyebutkan, pada hari ini (Kamis-red) pihaknya akan kembali turun ke tempat serupa dalam rangka mengantisifasi merebaknya penyakit yang cukup berbahaya itu ke daerah ini.

“Kemarin sudah saya turunkan anggota, rencana hari ini akan dilanjutkan,” papar Jalaluddin menambahkan, sangat bertanggungjawab mengantisifasi merebaknya flu babi di daerah ini.

Sumber : (Waspada Online)


Actions

Information

2 responses

9 05 2009
mama rambo

Di Kota Subulussalam juga terdapat beberapa peternakan babi yang jumlahnya ratusan ekor ( kt serambi) …………
bagaimana KadisPeternakan menanggapinya…….?
Kadis syariat……..?
Walikota sendiri….?

12 05 2009
si anak kampung

wow…..wowwwwwww
cepat donk bertindaknyaaaaaa.
ingat lebih baik mencegah daripada mengobati…
betul ga…..
pemerintah harus ada langkah konkrit dalam menangani masalah ini.
jangan hanya sekedar konsep……. tapi harus dilaksanakan. tidak mesti harus nunggu dari provinsi……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: