Empat Warga Subulussalam Korban Trafficking

3 01 2010

Aparat Kepolisian Resor (Polsek) Simpang Kiri, Polres Aceh Singkil-Kota Subulussalam meringkus Rahmat Manulang (23), karena diduga terlibat dalam jaringan sindikat perdagangan perempuan (trafficking) untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di Medan, Sumatera Utara. Rahmat ditangkap di rumahnya, Jalan Raja Asal, Belakang Warung Santai, Subulussalam Utara, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Selasa (15/12).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, sebanyak empat perempuan warga Subulussalam diduga telah menjadi korban trafficking oleh tersangka yang merupakan penduduk setempat. Wakapolres Aceh Singkil, Kompol Boy Heriyanto, Kamis (17/12), kepada wartawan mengatakan empat perempuan yang diduga menjadi korban trafficking itu masing-masing Wid (16), Ram Bru M (19), Er (20), dan As (28). Keempatnya penduduk Kota Subulussalam. “Tersangka sudah diamankan di Polres untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Boy.

Para korban disebut-sebut dijual ke tempat lokalisasi PSK dan pusat hiburan malam di Sumatera Utara. Kasus ini terkuak setelah aparat Kepolisian Sektor Simpang Kiri, Subulussalam, mendapat laporan dari salah satu korban yang berhasil melarikan diri dari tempat lokalisasi di Medan, lalu kembali ke kampungnya di Subulussalam.
Korban yang merupakan mahasiswi perguruan tinggi swasta di Subulussalam itu melaporkan kejadian yang menimpanya. Atas dasar laporan itulah aparat kepolisian bergerak cepat sehingga berhasil menciduk tersangka di kediamannya.

Secara terpisah, Kapolsek Simpang Kiri Iptu Budi Darma kepada Serambi, Jumat (18/12), mengatakan  korban mengaku telah dijual tersangka ke Medan.  “Tersangka menjual korban antara Rp 500 ribu sampai dengan Rp 2 juta,” ungkap Iptu Budi. Selanjutnya keluarga korban melaporkan kejadian itu ke Poslek Simpang Kiri. Tak lama berselang, sejumlah warga yang merasa kehilangan anak perempuannya dan diduga menjadi korban trafficking Rahmat mendatangi Polsek Simpang Kiri untuk membuat pengaduan yang sama. Hingga kemarin sudah empat perempuan yang diduga menjadi korban trafficking di kota itu. Dua di antaranya masih dalam proses pencarian anggota keluarga di lokasi yang ditunjukkan tersangka, sementara yang lainnya sudah kembali ke Subulussalam.

Kapolsek Iptu Budi mengatakan, korban mengaku bahwa tersangka melakukan modus operandi dengan cara membujuk calon korban, Mereka diiming-imingi pekerjaan pada sebuah rumah makan di Medan dan ada pula yang dipacari lebih dulu. Para wanita itu pun tergiur dan menerima tawaran tersebut, karena sangat membutuhkan pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya.  Tapi akhirnya para korban malah dijadikan pemuas nafsu para lelaki hidung belang.

Para korban dilaporkan sempat dipekerjakan tersangka di sebuah kafe di kawasan Padang Sidempuan, Sumut. “Bahkan sebelum dijual kepada germo, korban lebih dulu ditiduri tersangka. Menurut keterangan, ada yang sampai lima kali ditiduri, kemudian dijual kepada germo yang juga masih merupakan saudara tersangka,” terang Kapolsek. Disebutkan, para korban diminta melayani para lelaki hidung belang dengan tarif Rp 120.000 untuk sesi short time. Ironisnya, uang yang didapat dari user tidak semuanya diberikan kepada para korban. Germo memotong Rp 20.000 untuk sewa kamar ditambah Rp 100.000 untuk biaya kesehatan dan makan para korban.

Kasus ini terungkap setelah As, salah satu korban melarikan diri dari lokalisasi PSK di Sumut atas bantuan seorang pria yang pernah dia layani. Pria tersebut dilaporkan membayar sang germo Rp 2 juta dan meminta agar korban dilepaskan. Sementara Korban Wid berhasil sampai ke kampung halamannya, setelah berhasil melarikan diri dari Sumut. Dalam pelarian menuju Subulussalam, korban sempat mampir untuk mencari kerja di sejumlah tempat. Sesampai di Medan, Wid bertemu dengan warga Kota Subulussalam yang kemudian mengajaknya pulang kampung.

Menurut polisi, tersangka Rahmat diancam melanggar Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman minimal 3 tahun, maksimal 15 tahun penjara. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan peroses lebih lanjut, tersangka  kini meringkuk di balik jeruji besi Mapolres Aceh Singkil, Kampung Baru.

Melarikan diri
Sementara Kamis (17/12) lalu, Tidur Nainggolan melapor ke Polsek Simpang Kiri terkait minggatnya seorang anak perempuannya yang bernama Ira Ayu (17), penduduk Jalan T Nyak Adam Kamil Subulussalam. Ira dilaporkan berangkat dari rumahnya menuju Medan menggunakan angkutan umum. Sesampai di Medan, Ira mengirim pesan singkat kepada salah satu adiknya yang isinya, “Kalau ditanya sama mamak bilang kakak mencari kerja di Medan.” Mendapat sms dari sang kakak, sang adik segera melapor kepada ibunya. Ketika itu juga, keluarga Ira berusaha menghubungi kembali seraya membujuk agar Ira bersedia kembali ke rumah. Namun, Ira mengatakan tidak mau pulang karena tak tahu jalan. Ira juga mengaku mencari kerja bersama Butet (30), perempuan yang beralamat di Jalan SD Negeri 3 Kota Subulussalam. Dalam laporan orang tua Ira kepada polisi, Butet merupakan terlapor.

Sumber : Serambi Online


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: