Minyak Tanah tak Kunjung Dijual: Puluhan Kaum Ibu Mengamuk

23 01 2010

Pasokan minyak tanah (Mitan) yang tak menentu serta tingginya harga di level pengecer, membuat puluhan kaum ibu mengamuk di pelataran pangkalan mitan di Pasar Terminal Terpadu, Subulussalam, Selasa (19/1) kemarin. Sementara pemilik mitan mengaku bukan tak melepas, namun ia tak punya nyali ‘membagi’ karena situasi makin tak terkendalikan.

Para kaum ibu yang telah lama mengantri itu mengaku tak sabar menunggu mitan segera disalurkan. Situasi makain panas ketika aksi itu mendapat dukungan dari ibu-ibu lainnya yang berdatangan membawa jeregen berbagai jenis dan mendesak agar drum berisi mitan dibuka. Beruntung, beberapa saat kemudian, aparat kepolisian setempat datang untuk mengamankan situasi. Namun, ibu-ibu terus mendesak agar minyak yang ada segera disalurkan kepada pembeli. Bahkan kaum ibu yang emosi berat itu menendang satu drum kosong, hingga memunculkan suara gaduh.

Para kaum hawa itu ngotot meminta minyak lantaran harga di kios selama ini sangat tinggi sehingga tidak terbeli dan itupun kerap kosong. “Kami butuh minyak, buka drum ini,” kata mereka Polisi berusaha bernegosiasi dengan pemilik kios minyak agar dapat disalurkan kepada pembeli. Salah satu pemilik kios, Itok membantah tidak memberikan mitan kepada pembeli. Namun dia mengaku tidak dapat menyalurkan dengan kondisi berdesakan. Selain itu juga dilaporkan seringnya terjadi pembeli datang hingga beberapa kali mengisi minyak padahal ada warga yang tidak kebagian. “Kami bukan tidak mau membagi tapi kalau begini kami tidak mampu itupun kalau ada yang mau membagikan silahkan yang penting modal kami balik,” kata Itok

Setelah melalui negosiasi, akhirnya, pemilik kios melepas minyak yang baru datang kepada pembeli dengan mengembalikan modal mereka’ Akibatnya masyarakat dapat membeli dengan harga yang sangat layak. Masyarakat Kota Subulussalam akhir-akhir ini dilaporkan kesulitan mendapatkan minyak tanah dengan harga terjangkau. Hal itu jelas menambah beban warga kurang mampu di daerah tersebut. Selain kesulitan, harga jual mitan di tingkat pengecer mencapai Rp 7.000 perliter bahkan tak sedikit yang mengaku terpaksa membeli hingga harga Rp 7.500 per liter.

Seperti yang dikeluhkan oleh Ratna, warga Subulussalam. Dia  mengaku, sulit menemukan mitan di sekitar tempat tinggalnya. Kalau pun ada harganya sangat mahal sehingga sangat memberatkan. “Minyak tanah sering habis, yang ada di warung atau kios itupun langka dan harganya mahal sekali,” ucapnya.

Menyikapi persoalan minyak tanah di Kota Subulussalam sejumlah kalangan meminta pemerintah setempat segera turun tangan. Pasalnya, pada tahun 2008 lalu, melalui keputusan Walikota Subulussalam khusus untuk pengecer di daerah kota paling tinggi Rp 3.250 per liter. Sedangkan bagi mereka di daerah terpencil seperti Kecamatan Sultan Daulat dan Longkip harga mitan tertinggi dipatok Rp. 3.500 per liternya. Karenanya, warga meminta pemerintah kembali memantau perkembangan mitan di Subulussalam agar tidak merugikan rakyat kecil.

Sumber Berita dan Gambar : Serambinews


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: