Rekruitmen CPNS Masih Amatiran

2 02 2010

Sangat amatiran dan tak serius! Itulah kesan yang dapat kita tangkap pasca pengumuman hasil tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) formasi 2009 di Aceh. Buktinya, segera setelah diumumkan melalui media massa, berbagai protes bermunculan. Beberapa ketidakpatutan dari hasil tes yang sempat dihimpun harian ini antara lain, di Aceh Tengah dan Aceh Selatan, ditemukan kasus orang yang tidak ikut tes, justru dinyatakan lulus jadi CPNS, bahkan ada yang lulus di dua formasi sekaligus. Lalu, seorang peserta selain lulus di Bireuen juga lulus di Aceh Utara untuk formasi yang sama, yakni Pendidikan S1 Fisika.

Selain itu, sejumlah peserta tes CPNS melaporkan kepada harian ini tentang adanya indikasi praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam seleksi CPNS tahun ini di kabupaten/kota. Meski dugaan itu dibantah pejabat-pejabat berwenang, tapi karena kuatnya kasak-kusuk di tengah masyarakat, maka dugaan KKN itu pantas diselidiki. Motivasi pengusutan adalah agar tak terus menimbulkan prasangka buruk terhadap Pemkab/pemko, khususnya panitia penerimaan CPNS.

Kasus di Aceh Selatan lain lagi. Ada peserta yang lulus di dua formasi. Dan, yang lulus sekaligus di dua formasi itu bukan satu, melainkan sampai lima orang. “Ada apa ini?” tanya Mudasir, anggota Fraksi Golkar DPRK setempat. Sebagai salah satu pengawas dari unsur legislatif, Mudasir tahu persis bahwa saat ujian dilaksanakan, tidak ada peserta yang ikut ujian formasi S1 Pertambangan. “Bahkan absensinya saya coret, karena tak hadir. Tapi kenapa ada yang lulus di formasi S1 itu.”

Terhadap kasus-kasus yang sangat memalukan itu, Kepala BKPP Aceh, Drs Anwar Muhammad MSc, mengatakan pemeriksaan hasil tes CPNS oleh panitia provinsi sudah sesuai aturan. Didasarkan pada Lembar Jawaban Komputer (LJK) dan absensi peserta dari kabupaten/kota. Terhadap peserta yang lulus pada dua tempat atau dua jabatan, Anwar mengatakan, peserta tersebut secara otomatis gugur di satu tempat atau formasi jabatan. Dengan kata lain, peserta bersangkutan harus ditempatkan sesuai dengan tempat atau formasi jabatan yang dilamarnya.

Sedangkan formasi yang batal tersebut, menurutnya, diisi peserta lain yang berada di ranking bawahnya “Itu bisa dilakukan provinsi bila ada surat resmi dari kabupaten/kota setempat,” jelas Anwar. Keterangan Kepala BKPP itu jelas tidak menjawab pertanyaan masyarakat atau pihak-pihak yang dirugikan atas “perampasan” formasi CPNS itu. Yang ditanya masyarakat, “kenapa sampai ada orang yang tidak ikut tes bisa lulus. Kedua, kenapa ada peserta yang bisa lulus di tempat dalam satu kabupaten kota/kota dan ada yang lulus di dua kabupaten? Dan, ketiga, kenapa kasus-kasus seperti ini terjadi terus-menerus setiap kali pelaksanaan tes CPNS?”

Itulah yang harusnya dijawab. Sebab, dengan kenyataan hasil tes seperti itu, masyarakat melihat panitia tidak bekerja serius. Mekanisme pemeriksaan dan pengawasan tampaknya juga tak berfungsi baik. Pihak berwenang pantas mengusut kejanggalan hasil tes CPNS di kabupaten kota. Dan, panitia harus bertanggungjawab!

Sumber Opini : Serambinews


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: