Seminar Subulussalam : Tiga Tokoh Diusul Jadi Nama Jalan

3 06 2010

Tiga nama tokoh diusulkan agar ditabalkan menjadi nama pada ruas jalan di wilayah Kota Subulussalam. Gagasan itu disampaikan Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti SH ketika membuka seminar hari jadi Subulussalam, Rabu (2/6) di Gedung DPRK setempat.

Ketiga nama tersebut masing-masing Prof Ali Hasjmy (mantan gubernur Aceh), Ibrahim Abduh (mantan Wedana Kewedanaan Singkil 1956) dan Progo Nurjaman (Dirjen Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri). Ketiganya dinilai memiliki andil terhadap Subulussalam hingga menjadi sebuah wilayah pemerintahan. Ali Hasjmy misalnya, merupakan tokoh yang memberikan nama “Subulussalam” ketika berkunjung ke daerah itu pada tanggal 15 September 1962 silam.

Pun demikian dengan Ibrahim Abduh, selaku Wedana Singkil yang dengan ikhlas membangun daerah ini. Sedangkan Progo Nurjaman dinilai memiliki andil dalam pembentukan pemekeran Subulussalam menjadi sebuah daerah otonom.  “Tapi bagaimana pun juga ini tidak bisa saya paksakan, semua terpulang kepada masyarakat dan tokoh serta peserta seminar ini,” kata Wali Kota Sakti.

Terkait hari jadi Subulussalam, Sakti mengaku ingin mengakomodir pendapat semua komponen, seperti para pemegang kendali pemerintahan, sesepuh, tokoh atau siapa saja sehingga tidak ada kesan negative dalam hal ini.

Dikatakan, untuk menentukan hari jadi Subulussalam harus melihat berbagai aspek baik yuridis formal, teoritis ataupun historis. Selain itu, kata Sakti, perlu pula berkaca dengan daerah lain seperti Jakarta, Medan maupun Banda Aceh (koetaradja) dimana hari jadi daerah tersebut telah mencapai angka ratusan.”Padahal jika kita tinjau secara yuridis formal, Indonesia saja merdeka belum sampai seratus tahun,” ujar sakti.

Dari aspek historis pembentukan Kota Subulussalam, Sakti menyebutkan ada benang merah yang bisa dipetik secara yuridis formal yakni UU No. 8 tahun 2007 yang hakikatnya mengakomodir nama atau sebutan yang diberikan alm. Prof Ali Hasjmy, yaitu jauh sebelum terbentuknya Kota Subulussalam sebagai daerah otonom. Pada 14 September 1962 nama Subulussalam telah ditetapkan oleh Gubernur Aceh melalui Keputusan Gubernur DI Aceh, 1962.

Rangkaian historis itu menurut Sakti menjadi pemicu pembentukan Kota Subulussalam dan setelah melalui beberapa prosedur syarat pemekaran yang diatur dalam undang-undang, pada 2 Januai 2007 ditetapkan Kota Subulussalam menjadi daerah otonom. Kemudian fakta empiris lanjut Sakti, pada era 1990-an para camat dalam wilayah Simpang Kiri selalu memperingati 14 September sebagai Hari Jadi Subulussalam. Karenanya Sakti lebih sepakat jika Hari Jadi Subulussalam berdasarkan aspek historis, ditetapkan pada tanggal 14 September 1962.

Sementara Ketua DPRK Subulussalam Pianti Mala dalam sambutannya mengatakan bahwa untuk menetapkan waktu tidak dapat dipaksakan oleh satu pihak namun diharapkan semua komponen, seperti para pemegang kendali pemerintahan, sesepuh, tokoh atau siapa saja dapat menyatukan persepsi. Pasalnya, alam demokrasi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua elemen masyarakat bersuara, meskipun harus mentaati norma-norma yang ada.

Seminar yang diikuti sekira 400-an peserta itu menghadirkan sejumlah nara sumber yang dinilai cukup representatif, seperti Ir Surya Hasjmy, Prof Dr Ridwan Ibrahim Abduh selaku pemrakarsa pembentukan Subulussalam, pakar sejarah Drs Rusdy Sufi (Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh),  Ridwan Awad dan sejumlah nara sumber lokal, seperti Ugot Pinem, Ust. Basyaruddin, Dr. Salman dan berbagai tokoh Subulussalam.

Sumber : Serambinews


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: