Walikota Ancam Hentikan Bantuan Kepada Mahasiswa

3 11 2011

Wali Kota Subulussalam Merah Sakti tampaknya gerah terhadap aksi sejumlah oknum mahasiswa asal daerah ini yang menggelar demo di Simpang Lima Banda Aceh, Minggu (30/1) lalu. Bahkan buntut dari demo tersebut, Wali Kota Merah Sakti menyatakan mulai berpikir untuk menyetop bantuan bagi para mahasiswa tersebut.

Demikian diungkapkan Wali Kota Subulussalam pada acara Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) VIII Kota Subulussalam 2011 di Desa Muara Batubatu Kecamatan Rundeng, Subulussalam, Selasa (1/11).

Terkait dengan aksi itu, Wali Kota Merah Sakti menyatakan tidak menyimpan dendam bahkan dirinya selalu berdoa agar orang yang melakukan aksi terhadapnya diberikan hidayah oleh Allah SWT. Ia pun mengatakan jika ada yang salah secara gentlemen datang menyampaikan kepadanya untuk diperbaiki.

Jika benar keliru, lanjut Sakti, silakan dilaporkan dan tangkap untuk diproses. Namun, kata Sakti yang terjadi justru aksi mencoreng-coreng muka dirinya di Simpang Lima Banda Aceh sehingga merugikan daerah.

“Sebuah demonstrasi apabila berangkat dari kebencian, putih bisa menjadi hitam. Saya perlu sampaikan, masih ada nuansa ketidakikhlasan terhadap hasil Pilkada Wali Kota Subulussalam 2008 lalu,” kata Sakti.

Wali Kota meminta para orang tua agar menyampaikan kepada putra-putrinya untuk tidak terprovokasi hal-hal yang negatif. Ia mengatakan, betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap para mahasiswa asal daerahnya seperti mengalokasikan dana Otsus 2011 sebesar Rp 400 juta untuk 600-an mahasiswa. Tak hanya itu, berbagai bantuan yang digulirkan untuk kepentingan mahasiswa, seperti pembuatan skripsi, penelitian bahkan saat memasuki Perguruan Tinggi dibantu daerah ini.

“Makanya dengan peristiwa ini, dan hari ini saya berpikir apakah tahun 2012 ada bantuan untuk mahasiswa, saya sudah bicara dengan anggota DPRK Jamasa Cibro, bila penting jangan ada bantuan untuk mahasiswa 2012,” tegas Sakti.

Terkait dengan dana hibah sebesar Rp 30 miliar yang diisukan belum dilaporkan hingga menjadi isu netagif, Sakti membantah tegas. Ia mengaku masih sayang pada dirinya dan ingin bebas alias tidak mau masuk penjara.

Namun persoalannya adalah, penerima hibah, seperti pesantren dan mahasiswa tidak melaporkan pertanggungjawaban kepada pemerintah. Sakti pun meminta pihak kepolisian jika ada terjadi penyimpangan di lingkungan pemerintahannya kalau masih dapat dibenahi diperbaiki namun jika tidak mempersilakan diproses secara hukum.

Seperti pernah diberitakan, sebanyak 20-an mahasiswa tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat (Gempar) Kota Subulussalam berunjukrasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Minggu (30/10) sore. Aksi ditutup dengan pembakaran sejumlah poster berisi kritikan.

 

Sumber : Serambinews Online


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: