Listrik Belum Menyala di Perumahan BRR

16 11 2011

Sedikitnya 43 kepala keluarga (KK) di Pemukiman Perumahan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), Desa Pegayo, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam hingga saat ini melewati malam tanpa penerangan listrik. Warga pun mengaku belum merdeka karena hidup dalam kegelapan.

“Kampung kami ini sunyi, karena tidak ada listrik, apalagi kalau malam hari bagai kampung mati,” ujar Ny Aminah (30), salah seorang penduduk perumahan BRR kepada Serambi, Minggu (13/11).

Aminah yang mengaku sudah tiga tahun tinggal di perumahan tersebut sudah lama mendambakan pemasangan listrik di rumahnya. Pasalnya, selama ini, warga yang tinggal di daerah itu hanya mengandalkan lampu teplok untuk penerangan. Warga pun mengaku tidak dapat melihat televisi atau menggunakan peralatan elektronik lainnya.

Bahkan untuk mendapatkan air bersih, warga di sana menurut Aminah harus berjalan hingga ratusan meter ke sumber air yang berada di bawah jurang. “Bawa dua timba saja sudah ngos-ngosan, pokoknya semua serba susah, kalau orang tua mau wudhuk saja kesusahan,” ujar Aminah.

Hal senada disampaikan Muhammadin (62) yang mengaku mereka belum merdeka meskipun Indonesia sebenarnya telah merdeka sejak 1945 lalu. Pasalnya, perumahan Pegayo yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat kota sampai kini gelap gulita pada malam hari lantaran belum adanya jaringan listrik.

Menurut Muhammadin mereka sudah berulang kali mengajukan permohonan tentang pemasangan listrik ke perumahan tapi sampai kini belum mendapat tanggapan. Ia bahkan mengatakan jika dalam dua bulan ini jaringan listrik tidak juga dipasang besar kemungkinan penduduk perumahan BRR hengkang karena tidak lagu sangggup menahan derita.

Dikatakan, berbagai persoalan dirasakan oleh warga akibat tidak adanya fasilitas listrik mulai dari masalah penerangan hingga air bersih. Sebab jika listrik telah terpasang, warga bisa memanfaatkan sumur bor yang dibangun di perkampungan tersebut. Selama ini, sumur bor di sana tidak berfungsi bahkan dikhawatirkan sudah rusak.

Warga lain menambahkan, tidak adanya fasilitas listrik yang bisa dinikmati membuat anak-anak di perkampungan tersebut kesulitan belajar saat malam hari. Pengeluaran warga saat ini juga makin membengkak seiring dengan naiknya harga minyak tanah. Sulitnya mendapatkan dan tingginya harga minyak tanah juga memperparah keadaan warga di perumahan BRR. “Pokoknya kami benar-benar menderita,” timpal Ny Jasni (36).

Di sisi lain, Muhammaddin mengaku warga perumahan BRR saat ini sedang menggalang dana untuk pembangunan sebuah musalla. Sebab selama ini tidak ada fasilitas rumah ibadah seperti musalla di sana. Atas penggalangan tersebut kini telah terkumpul dana senilai Rp 15 juta. Warga pun berharap agar ada donator yang bersedia membantu meringankan beban masyarakat dalam mendirikan rumah ibadah.

Sumber : Serambinews Online


Actions

Information

2 responses

28 12 2011
Nini

Mandala ponsel penipu,,jangn percaya atas nama dimas suprianto

28 12 2011
Nini

Memang pemerintah kota subulussalam tidak melihat rakyat ya yg lagi kesusahan cuma mau enak ya aja,,yg kaya di bantu yang miskin tidak di pedulikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: