Dewan Curigai Tanah Negara Diperjualbelikan

23 02 2012

Pemerintah Kota Subulussalam didesak segera menghentikan dugaan jual beli tanah negara kepada cukong asal Sumatera Utara. Desakan tersebut disampaikan Ketua Komisi B DPRK Subulussalam, Netap Ginting, Senin (20/2) kemarin menyikapi adanya dugaan praktik jual beli tanah oleh cukong dari luar Subulussalam.

Netap mengaku mendapat informasi terkait dugaan jual beli tanah Negara di Kecamatan Longkib dan Runding oleh cukong yang berasal dari Sumatera Utara seperti Dairi, Tanah Karo, Langkat, Binjai dan Medan. Para cukong tersebut menurut Netap menguasai lahan negara dengan modus operandinya menjadikan masyarakat sebagai tameng. Caranya, kata Netap, masyarakat ramai-ramai membuka lahan kosong antara dua hingga empat hektar. Kemudian, dikeluarkan Surat Pernyataan Penguasaan Pisik Tanah (SPPT) sehingga dianggap legal. Selanjutnya, lahan yang telah diimas tumbang, kata Netap diganti rugi oleh cukong dan melengkapi dengan surat ganti rugi lahan. Ganti rugi lahan yang diterima oleh masyarakat ini menurut Netap tidak lah besar yakni sekitar Rp 2 juta per hektar.

Tidak hanya itu, permainan, menurut Netap berlanjut dalam proses pembuatan surat kepemilikan lahan terkait. Sebab, sesuai aturan apabila seseorang menguasai lahan perkebunan di atas 25 hektar maka harus melengkapi dokumen seperti Izin Lokasi (IL) Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha (HGU) dan lain-lain. Karenanya, untuk menghindari hal tersebut, para cukong memecah-mecah surat terkait masing-masing sepuluh hektar per orang.

“Jadi lahan yang luasnya 100-200 hektar itu dalam surat pemiliknya dibuat beberapa orang (dipecah-red), satu orang misalnya sepuluh atau 15 hektar padahal masih dalam kelaurganya bisa saja istri anak atau keluarga lain. Ini dilakukan untuk menghindari pajak dan perizinan lain,” terang Netap.

Lebih jauh Netap yang juga Sekretaris Fraksi Keadilan Bersama mengatakan bahwa praktik jual beli tanah Negara kepada pihak luar tersebut telah berlangsung sekitar dua tahun. Dalam praktik ini diperkirakan ada sekitar 2000-an hektar tanah Kota Subulussalam yang dikuasai oleh cukong asal Sumatera Utara. Persoalan ini lanjut Netap seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah setempat. Pasalnya, pembukaan lahan yang bermodus masyarakat itu menggunakan alat berat excavator (beko).

“Karena setelah lahan itu diganti rugi dari masyarakat langsung dibuat parit pembatas dengan menggunakan alat berat,” kata Netap.

Jual beli lahan negara tersebut, menurut Netap tidak hanya terhadap hutan-hutan kosong tetapi ada lahan transmigrasi di sana yang juga lewong dijual kepada para cukong tanah. Karenanya, lagi-lagi Netap mendesak tindakan Pemerintah Kota Subulussalam menghentikan praktik penjualan tanah negara. Jika tidak, Netap kuatir lima atau sepuluh tahun ke depan, masyarakat Subulussalam tidak lagi memiliki tanah untuk digarap sehingga menjadi penonton alias buruh di negeri sendiri. Masyarakat sendiri menurut Netap rela menjual tanah dengan ganti rugi yang tidak begitu besar lantaran himpitan ekonomi.

Terakhir, Netap mengakui mengendus kasus jual beli tanah negara kepada cukong tersebut terorganisir. Karena itu perlu sebuah tim khusus yang kuat untuk membongkar mafia tanah tersebut. Yang menjadi garda terdepan, kata Netap, sejatinya adalah pihak pemerintah. Dari pihak DPRK Subulussalam melalui komisi B yang membidangi perkebunan, kehutanan dan perekonomian masyarakat akan mengusulkan pansus untuk mengungkap mafia tanah.

 

Sumber : Serambi News Online


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: